Senin, 29 Desember 2008

Pengaruh Pengolahan Ikan Tongkol terhadap Penurunan Kadar Pb

Dengan meningkatnya perkembangan industri baik industri migas, pertanian maupun industri non migas lainnya maka semakin meningkat pula tingkat pencemaran pada perairan yang disebabkan oleh hasil buangan industri tersebut yang disebut limbah. Air sering tercemar oleh komponen anorganik diantaranya adalah berbagai logam berat yang terbanyak. Logam berbahaya yang mencemari lingkungan terutama adalah Hg, Pb, As, Cd, Cr dan Ni. Dari logam berat tersebut yang sering mencemari air yaitu Hg dan Pb. Dari penelitian terdahulu tentang pemeriksaan timbal dalam ikan tongkol mentah di Pasar Kenjeran tahun 2002 didapatkan hasil bahwa 87% ikan tongkol di daerah tersebut mengandung logam berat Pb. Penelitian juga pernah dilakukan di daerah Kenjeran pada tahun 2000, terhadap kerang dan kepiting. Masyarakat paling senang mengkonsumsi ikan tongkol sebagai lauk, sebab ikan tongkol merupakan sember protein, vitamin dan gizi lainnya yang sangat baik. Mengkonsumsi daging ikan tongkol dapat mengingkatkan vitalitas hidup, kecerdasan dan terutama kesehatan. Ikan tongkol dapat dikonsumsi sebagai ikan segar (ikan basah), sebagai ikan kering yang diasinkan atau juga sebagai ikan kalengan hasil teknologi pangan modern. Karena ikan adalah hewan yang dapat tercemar oleh logam melalui pencemaran lingkungan. Oleh karena ikan yang dikonsumsi oleh masyarakat seharusnya tidak mengandung logam berat melebihi batas maksimum sesuai dengan Keputusan Direktur Jenderal Obat dan Makanan No. 03725/B/SK/VII/1989.

Tujuan penelitian untuk mengetahui kandungan logam berat Pb pada Ikan tongkol sebelum dan sesudah dilakukan pengolahan(direbus, digoreng dan dipepes). Penelitian dilaksanakan di Surabaya pada tahun 2005.

Dari hasil penelitian didapat bahwa sumber ikan berasal dari Pasuruan Sidoarjo, hal ini dilakukan karena hasil tangkapan ikan dari Pasuruan dan Sidoarjo kebanyakan dipasarkan di Surabaya. Meskipun kadang-kadang ada pula yang berasal dari hasil tangkapan di perairan Tuban. Namun yang dominan ikan tongkol yang ada dipasar Surabaya berasal dari Pasuruan dan Sidorajo, karena jaraknya lebih dekat sehingga transportasi lebih mudah serta mengurangi kerusakan ikan. Hasil analisis statistik menjelaskan homogenitas sample sampel cukup dan Uji T menjelaskan ada pengaruh bermakna pada setiap pengolahan terhadap penurunan logam berat Pb pada ikan tongkol. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan bahwa kandungan Pb pada ikan yang berasal dari Pasuruan dan Sidoarjo tidak jauh berbeda. Ini menunjukkan bahwa sumber ikan tidak mempengaruhi kandungan Pb-nya. Dari hasil pemeriksaan laboaratorium didapatkan hasil bahwa rata-rata kandungan Pb dalam ikan segar sebesar 3,21 ppm.

Berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Nomor. 03725/B/SK/VII/1989 tentang batas Maksimum Cemaran Logam dalam makanan untuk ikan dan hasil olahan sebesar 2 mg/kg (ppm). Ini menunjukkan bahwa ikan tongkol yang dijual di pasar Wonokromo dan pasar Pabean baik yang berasal dari Pasuruan dan Sidoarjo menunjukkan angka yang sama yaitu semua diatas nilai ambang batas dan melebihi persyaratan yang sudah ditentukan.

Terdapat pengaruh yang bermakna terhadap penurunan kandungan logam berat pada ikan yang diolah (p<0,05),>

Masyarakat disarankan membeli dan konsumsi ikan yang sudah diolah sehingga kandungan logam beratnya rendah dan menjadi aman dikonsumsi. Bagi masyarakat yang konsumsi ikan tongkol supaya melakukan pengolahan dengan pemanasan tinggi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar