Senin, 12 Januari 2009

BAB 7. KOMPRESOR DAN KATUP EKSPANSI

Tujuan Instruksional khusus

Mahasiswa mampu menjelaskan jenis-jenis kompresor dan katup ekspansi serta menghitung kinerjanya. Cakupan pokok bahasan ini meliputi jenis-jenis kompresor, perbandingan kinerja dan efisiensi kompresor, jenis-jenis katup ekspansi, perhitungan ekspansi pada sistem kapiler

A. Kompresor

Kompresor mengubah uap refrigeran yang masuk pada suhu dan tekanan rendah menjadi uap bertekanan tinggi. Kompresor juga mengubah suhu refrigeran menjadi lebih tinggi akibat proses yang bersifat isentropik. Tiga jenis kompresor yang sering digunakan adalah kompresor torak (reciprocating), sentrifugal dan rotari. Kompresor torak mempunyai piston yang bergerak maju mundur di dalam suatu silinder, dengan kapasitas yang bervariasi antara 1 hingga 100 ton pendinginan tiap unit. Kompresor sentrifugal mempunyai satu impeler sentrifugal dengan beberapa sudu yang berputar dengan kecepatan tinggi. Kompresor rotari mempunyai satu sirip (vane) yang berputar dalam satu silinder.

Kompresor torak adalah yang paling umum digunakan, dapat digerakkan oleh motor listrik atau motor bakar. Parameter penting yang mempengaruhi penampilan kompresor adalah kapasitas kompresor itu sendiri, yang pada gilirannya dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti:

  1. langkah (displacement) piston

  2. clearance antara kepala piston pada titik mati atas dengan ujung silinder,

  3. ukuran katup pemasukan dan pengeluaran,

  4. RPM

  5. jenis refrigeran,

  6. tekanan masukan dan tekanan keluaran.

Seringkali kapasitas kompresor harus dikendalikan untuk mengatasi beban pendinginan yang tidak tetap, sehingga kompresor sering dioperasikan pada kapasitas di bawah kapasitas maksimum. Kapasitas kompresor dapat dikendalikan dengan cara:

  1. menyalurkan (bypass) uap refrigeran dari sisi tekanan tinggi ke sisi tekanan rendah kompresor. Salah satu sistem bypass adalah menghubungkan sisi tekanan tinggi dan sisi tekanan rendah kompresor dengan pipa dan menggunakan katup solenoid sehingga uap refrigeran langsung dipindahkan ke sisi tekanan rendah.

  2. tetap membuka katup pemasukan kompresor sehingga uap refrigeran mengalir langsung di dalam kompresor,

  3. mengendalikan kecepatan (RPM) motor, yaitu dengan menggunakan motor listrik kecepatan ganda atau menggunakan dua motor listrik yang berkecepatan berbeda.


Gambar 7-1. Konstruksi kompressor torak


Gambar 7-2. Kompressor torak


Gambar 7-3. Kompressor untuk R-22


Gambar 7-4. Kompressor hermetik


Gambar 7-5. Kompressor jenis terbuka


Gambar 7.6. Langkah Kompresor

B. Katup Ekspansi

Pada prinsipnya, katup ekspansi adalah alat yang dapat mengendalikan aliran refrigeran ke evaporator baik secara manual ataupun otomatik. Jenis katup ekspansi yang umum digunakan dalam mesin pendingin adalah seperti ditunjukkan pada Gambar 7-7. Bentuk lain katup ekspansi yang paling sederhana adalah pipa kapiler panjang.


Gambar 7-7. Katup ekspansi termostatik

Besarnya tekanan jatuh yang disebabkan oleh pipa kapiler tersebut dapat dihitung dengan persamaan Darcy Weisbach, yaitu

...............................................................................................

7-1

dengan

...............................................................................................

7-2

dimana: nilai kekasaran relatif pipa (e/d) dan bilangan Reynold (rDv/m). Dalam hal ini, v adalah laju aliran refrigeran (m/det), L panjang pipa (m) dan D diameter pipa (m).

Test Formatif

1. Mesin pendingin dengan refrigeran R-22 yang beroperasi pada suhu kondensasi 34 oC, suhu evaporasi -20 oC akan menggunakan katup ekspansi dengan system pipa kapiler (ID=1.63 mm). Dengan asumsi bahwa viskositas R-22 (m=0.0001823 Pa.s) tetap di sepanjang pipa, volume jenis (n) dihitung pada keadaan rata-rata, dan factor friksi (f) dapat dihitung dengan persamaan di bawah, tentukan panjang pipa kapiler yang diperlukan.

2. Jelaskan apa yang dimaksud dengan

  • kompresi basah
  • kompresi kering

pada mesin pendingin kompresi uap

BAB 6. MESIN PENDINGIN ALTERNATIF

Tujuan Instruksional Khusus

Mahasiswa diharapkan dapat menjelaskan menjelaskan prinsip kerja berbagai mesin pendingin alternatif dan menganalisis performansi mesin pendingin absorpsi. Cakupan dari pokok bahasan ini rangkuman sistem pendingin non kompresi uap, khusunya sistem absorpsi dan efek termoelektrik.

A. Sistem Pendinginan Absorbsi

Sejarah mesin pendingin absorbsi dimulai pada abad ke-19 mendahului jenis kompresi uap dan telah mengalami masa kejayaannya sendiri. Siklus pendinginan absorbsi mirip dengan siklus pendinginan kompresi uap. Perbedaan utama kedua siklus tersebut adalah gaya yang menyebabkan terjadinya perbedaan tekanan antara tekanan penguapan dan tekanan kondensasi serta cara perpindahan uap dari wilayah bertekanan rendah ke wilayah bertekanan tinggi.

Pada sistem pendingin kompresi uap digunakan kompresor, sedangkan pada sistem pendingin absorbsi digunakan absorber dan generator. Uap bertekanan rendah diserap di absorber, tekanan ditingkatkan dengan pompa dan pemberian panas di generator sehingga absorber dan generator dapat menggantikan fungsi kompresor secara mutlak. Untuk melakukan proses kompresi tersebut, sistem pendingin kompresi uap memerlukan masukan kerja mekanik sedangkan sistem pendingin absorbsi memerlukan masukan energi panas. Oleh sebab itu, siklus kompresi uap sering disebut sebagai siklus yang digerakkan dengan kerja (work-operated) dan siklus absorbsi disebut sebagai siklus yang digerakkan dengan panas (heat operated). Gambar 6-1 menunjukkan persamaan dan perbedaan antara siklus kompresi uap dengan siklus absorbsi.

Salah satu keunggulan sistim absorbsi adalah karena menggunakan panas sebagai energi penggerak. Panas sering disebut sebagai energi tingkat rendah (low level energy) karena panas merupakan hasil akhir dari perubahan energi dan sering kali tidak didaur ulang. Pemberian panas dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti menggunakan kolektor surya, biomassa, limbah, atau dengan boiler yang menggunakan energi komersial.

1. Prinsip Kerja Siklus Absorbsi

Dasar siklus absorbsi disajikan pada gambar 6-2. Pada gambar ditunjukkan adanya dua tingkat tekanan yang bekerja pada sistem, yaitu tekanan rendah yang meliputi proses penguapan (di evaporator) dan penyerapan (di absorber), dan tekanan tinggi yang meliputi proses pembentukan uap (di generator) dan pengembunan (di kondensor). Siklus absorbsi juga menggunakan dua jenis zat yang umumnya berbeda, zat pertama disebut penyerap sedangkan yang kedua disebut refrigeran. Selanjutnya, efek pendinginan yang terjadi merupakan akibat dari kombinasi proses pengembunan dan penguapan kedua zat pada kedua tingkat tekanan tersebut. Proses yang terjadi di evaporator dan kondensor sama dengan pada siklus kompresi uap

Kerja siklus secara keseluruhan adalah sebagai berikut :

Proses 1-2/1-3 : Larutan encer campuran zat penyerap dengan refrigeran (konsentrasi zat penyerap rendah) masuk ke generator pada tekanan tinggi. Di generator panas dari sumber bersuhu tinggi ditambahkan untuk menguapkan dan memisahkan refrigeran dari zat penyerap, sehingga terdapat uap refrigeran dan larutan pekat zat penyerap. Larutan pekat campuran zat penyerap mengalir ke absorber dan uap refrigeran mengalir ke kondensor.


Proses 2-7 : Larutan pekat campuran zat penyerap dengan refrigeran (konsentrasi zat penyerap tinggi) kembali ke absorber melalui katup cekik. Penggunaan katup cekik bertujuan untuk mempertahankan perbedaan tekanan antara generator dan absorber.

Proses 3-4 : Di kondensor, uap refrigeran bertekanan dan bersuhu tinggi diembunkan, panas dilepas ke lingkungan, dan terjadi perubahan fase refrigeran dari uap ke cair. Dari kondensor dihasilkan refrigeran cair bertekanan tinggi dan bersuhu rendah.

Proses 4-5 : Tekanan tinggi refrigeran cair diturunkan dengan menggunakan katup cekik (katup ekspansi) dan dihasilkan refrigeran cair bertekanan dan bersuhu rendah yang selanjutnya dialirkan ke evaporator.

Proses 5-6 : Di evaporator, refrigeran cair mengambil panas dari lingkungan yang akan didinginkan dan menguap sehingga terjadi uap refrigeran bertekanan rendah.

Proses 6-8/7-8 : Uap refrigeran dari evaporator diserap oleh larutan pekat zat penyerap di absorber dan membentuk larutan encer zat penyerap. Jika proses penyerapan tersebut terjadi secara adiabatik, terjadi peningkatan suhu campuran larutan yang pada gilirannya akan menyebabkan proses penyerapan uap terhenti. Agar proses penyerapan berlangsung terus-menerus, absorber didinginkan dengan air yang mengambil dan melepaskan panas tersebut ke lingkungan.

Proses 8-1 : Pompa menerima larutan cair bertekanan rendah dari absorber, meningkatkan tekanannya, dan mengalirkannya ke generator sehingga proses berulang secara terus menerus.

2. Analisa Pendinginan Absorbsi

Siklus pendinginan absorbsi pada prinsipnya merupakan kombinasi dari 2 siklus, yaitu siklus tenaga dan siklus pendinginan, seperti disajikan pada Gambar 6-3. Siklus tenaga menghasilkan kerja yang dibutuhkan untuk melakukan proses pengempaan (kompresi) uap yang dihasilkan oleh evaporator. Siklus tenaga menerima panas qg pada suhu Ts, melepas energi W dalam bentuk kerja ke siklus pendinginan, dan melepas sejumlah qa energi ke lingkungan dalam bentuk panas pada suhu Ta. Siklus refrigerasi menerima kerja sebesar W dan menggunakannya untuk memompa sejumlah qe panas pada suhu pendinginan Tr kemudian melepaskan sejumlah qc panas pada suhu lingkungan Ta.

Dari definisi COP, untuk siklus tenaga berlaku persamaan:

............................................................

6-1

sedangkan untuk siklus pendinginan berlaku,

............................................................

6-2

Koefisien penampilan (COP) siklus absorbsi ideal atau siklus pendinginan yang digerakkan dengan panas didefinisikan sebagai :

............................................................

6-3

Dengan memasukkan persamaan [6-1] dan [6-2] diperoleh koefisien penampilan ideal

............................................................

6-4

Dari persamaan di atas dapat diambil beberapa kecenderungan, yaitu :
- COP meningkat jika Tg meningkat
- COP meningkat jika Te meningkat
- COP menurun jika Ta menurun

Dalam beberapa hal, penggunaan COP untuk melihat penampilan sistem pendinginan absorbsi tidak menguntungkan karena nilainya sangat rendah dibandingkan dengan COP sistem pendinginan kompresi uap. Akan tetapi, hal ini tidak mutlak menunjukkan bahwa penampilan kerja sistem absorbsi lebih rendah dibandingkan sistem kompresi uap karena definisi keduanya sangat berbeda. COP sistem kompresi uap adalah perbandingan laju pendinginan terhadap tenaga dalam bentuk kerja yang diberikan pada sistem, sedangkan pada sistem absorbsi adalah perbandingan terhadap penambahan panas pada generator. Secara umum, energi dalam bentuk kerja lebih tinggi nilai dan harganya dibandingkan dalam bentuk panas.

Contoh Soal 1 :

Tentukan COP ideal sistem pendinginan absorbsi yang digerakkan dengan sumber panas bersuhu 100 oC, suhu pendinginan 5 oC dan suhu lingkungan 30 oC.
Jawab : COP = (5+273.15)(100-30) / (100+273.15)(30-5) = 2.09

Analisis terhadap siklus pendinginan absorbsi sederhana dapat dilakukan dengan menggunakan Gambar 6-8 sebagai berikut:

a. Keseimbangan massa

Di absorber :

............................................................

6-5

Di generator :

............................................................

6-6

............................................................

6-7a

............................................................

6-7b

............................................................

6-8

Di kondensor dan evaporator :

............................................................

6-9

yaitu massa refrigeran yang mengalir jika konsentrasi zat penyerap yang terkandung pada refrigeran setelah keluar dari generator (pada titik 4) dianggap nol (keadaan ideal).

b. Keseimbangan energi

Energi masuk = energi keluar :

............................................................

6-10

dimana :

............................................................

6-11

............................................................

6-12

............................................................

6-13

............................................................

6-14

............................................................

6-15

dimana :
h : entalpi (kJ/kg)
m : laju aliran massa (kg/det)
p : tekanan (kPa)
q : energi (kJ/kg)
v : volume jenis larutan (m3/kg)
wp : kerja pompa (kW/kg)
x : konsentrasi penyerap (-)
hp : efisiensi pompa (-)
huruf kecil 1-8 : sesuai dengan gambar 6-8
a : absorber (penyerap) c : campuran
e : evaporator g : generator
k : kondensor r : refrigeran

Contoh soal 2:

Suatu mesin pendingin jenis absorbsi air-LiBr bekerja dengan suhu di generator 100 oC, kondensor 40 oC, evaporator 10 oC, dan absorber 30 oC. Kapasitas pompa adalah 0,6 kg/det.

Tentukan :
a. laju aliran refrigeran (air) yang melalui kondensor dan evaporator
b. energi masuk/keluar pada generator, kondensor, evaporator, dan absorber.
c. COP sistem.
Jawab :
a. Keadaan jenuh air murni terjadi di kondensor dan evaporator, sehingga dengan memasukkan suhu-suhu yang diketahui ke gambar 6-5, diperoleh tekanan uap jenuh di :

kondensor (Tk = 40 oC) = 7,38 kPa
evaporator (Te = 10 oC) = 1,23 kPa
Uap jenuh di kondensor keluar dari generator pada suhu 100 oC, sehingga konsentrasi LiBr yang terkandung pada uap air setelah keluar dari generator adalah perpotongan antara suhu larutan 100 oC dengan suhu jenuh 40 oC, yaitu 66,4 %.

Uap jenuh dari evaporator masuk ke absorber yang berada pada suhu 30 oC, sehingga meninggalkan absorber dengan konsentrasi LiBr (dengan cara yang sama) sebesar 50 %. Dengan demikian, keseimbangan massa di generator, dapat dituliskan :

Keseimbangan laju massa total : m2 + m4 = m1 = mc = 0,6
Keseimbangan LiBr : m1x1 = m2x2
0,6(0,50) = m2 (0,664)
m2 = m3 = ma = 0,452 kg/det dan
m4 = mr = 0,148 kg/det

Sehingga, laju aliran massa refrigeran yang melalui kondensor dan evaporator adalah m4 = m5 = m6 = m7 = mr = 0,148 kg/det, sedangkan laju aliran massa penyerap adalah m2 = m3 = ma = 0,452 kg/det, dan mc = 0,6 kg/det.

b. Entalpi larutan dapat dibaca dari gambar 6-6, yaitu :
h1 = h8 = (pada T = 30 oC dan x1 = 0,50) = -168 kJ/kg
h2 = h3 = (pada T = 100 oC dan x2 = 0,664) = -52 kJ/kg

Entalpi air dan uap air pada keadaan jenuh dapat dibaca dari Tabel Uap pada Lampiran, yaitu :
h4 (uap jenuh pada T = 100 oC) = 2676,0 kJ/kg
h5 = h6 = (cair jenuh pada T = 40 oC) = 167,5 kJ/kg
h7 (uap jenuh pada T = 10 oC) = 2520,0 kJ/kg

Sehingga laju pertukaran energi yang terjadi adalah :
qg = m2h2 + m4h4 - m1h1 = 0,452(-52) + 0,148(2676,0) - 0,6(-168) = 473,3 kJ
qk = mr(h4 - h5) = 0,148(2676,0 - 167,5) = 371,2 kJ
qa = mrh7 + mah3 - mch8 = 0,148(2520,0) + 0,452(-52) - 0,6(-168) = 450,3 kJ/kg
qe = mr(h7 - h6) = 0,148(2520,0 - 167,5) = 348,2 kJ/kg

c. COP = qe / qg = (348,2) / (473,3) = 0,736
COP ideal sistem dapat dihitung dengan menggunakan Ta rata-rata = (30+40)/2 = 35 oC, yaitu :

.................................

6-16

3. Kombinasi Refrigeran – Absorber pada Sistem Pendinginan Absorbsi

Terdapat beberapa kriteria yang harus dipenuhi oleh kombinasi refrigeran dengan zat penyerap untuk layak digunakan pada mesin pendingin absorbsi. Diantaranya adalah :

  1. Zat penyerap harus mempunyai nilai afinitas (pertalian) yang kuat dengan uap refrigeran, dan keduanya harus mempunyai daya larut yang baik pada kisaran suhu kerja yang diinginkan.
  2. Kedua cairan tersebut, baik masing-masing maupun hasil campurannya, harus aman, stabil, dan tidak korosif.
  3. Secara ideal, kemampuan penguapan zat penyerap harus lebih rendah dari refrigeran sehingga refrigeran yang meninggalkan generator tidak mengandung zat penyerap
  4. Refrigeran harus mempunyai panas laten penguapan yang cukup tinggi sehingga laju aliran refrigeran yang harus dicapai tidak terlalu tinggi
  5. Tekanan kerja kedua zat harus cukup rendah (mendekati tekanan atmosfir) untuk mengurangi berat alat dan menghindari kebocoran ke lingkungannya

Saat ini, terdapat dua kombinasi refrigeran-zat penyerap yang umum digunakan, yaitu air-litium bromida (H2O-LiBr) dan amonia-air (NH3-H2O). Pada kombinasi pertama, air bertindak sebagai refrigeran dan litium bromida sebagai zat penyerap, sedang pada kombinasi kedua, amonia bertindak sebagai refrigeran dan air sebagai zat penyerap.

a. Sistem Litium Bromida – air

Sistem litium bromida-air banyak digunakan untuk pengkondisian udara dimana suhu evaporasi berada di atas 0 oC. Litium Bromida (LiBr) adalah suatu kristal garam padat, yang dapat menyerap uap air. Larutan cair yang terjadi memberi tekanan uap yang merupakan fungsi suhu dan konsentrasi larutan, seperti ditunjukkan pada Gambar 6-5. Diagram pada gambar tersebut digunakan pada keadaan jenuh larutan, dimana larutan berada pada keadaan keseimbangan.

Hubungan antara entalpi dengan persentase Litium-Bromida dalam larutan LiBr pada berbagai suhu larutan diberikan pada Gambar 6-6. Di bagian kanan bawah Gambar 6-5 dan Gambar 6-6 terdapat batas dimana terjadi kristalisasi larutan LiBr-H2O, yaitu pada keadaan mana larutan mengalami pemadatan. Proses yang terjadi pada wilayah melewati batas kristalisasi akan mengakibatkan pembentukan lumpur padat dan penyumbatan sehingga mengganggu aliran di dalam pipa.

Contoh soal 3:

Air murni pada suhu 40 oC diserap oleh LiBr sehingga menghasilkan larutan dengan konsentrasi 59 % LiBr di dalam larutan. Tentukan a) tekanan uap air murni (sebelum pelarutan LiBr), b) suhu dan tekanan uap larutan air larutan
Jawab :

a) Dengan menggunakan Gambar 6-5, tekan uap air murni diperoleh dengan menarik garis lurus mendatar dari kiri ke kanan, sehingga tekanan uap air pada suhu 40 oC adalah 7,38 kPa.

b) Suhu larutan merupakan titik potong antara suhu air (40 oC) dengan konsentrasi larutan (59%) yaitu 80 oC. Tekanan uap larutan diperoleh dengan menarik garis lurus mendatar ke sumbu tekanan, dan diperoleh nilai 7, 38 kPa (sama dengan tekanan uap air murni pada suhu 40 oC).

b. Sistem Air – Amonia

Sistem amonia-air digunakan secara luas untuk mesin pendingin berskala kecil (perumahan) maupun industri, yang mana suhu evaporasi yang dibutuhkan mendekati atau di bawah 0 oC. Sistem amonia-air mempunyai hampir seluruh kriteria yang diperlukan di atas, kecuali bahwa zat-zat tersebut dapat bersifat korosif terhadap tembaga dan alloynya, serta sifat amonia yang sedikit beracun sehingga membatasi penggunaannya untuk pengkondisian udara.

Kelemahan sistem amonia-air yang paling utama adalah air yang juga mudah menguap sehingga amonia yang berfungsi sebagai refrigeran masih mengandung uap air pada saat keluar dari generator dan masuk ke evaporator melalui kondensor. Keadaan ini dapat menyebabkan uap air meninggalkan panas di evaporator dan meningkatkan suhunya sehingga menurunkan efek pendinginan. Untuk menghindari hal itu, mesin pendingin absorbsi dengan sistem amonia-air umumnya dilengkapi dengan rectifier dan analyzer, seperti ditunjukkan pada Gambar 6-7. Amonia yang masih mengandung uap air dari generator melalui rectifier, suatu mekanisma yang bekerja seperti kondenser akibat adanya arus balik uap air dari analyzer. Di sini, uap air yang mempunyai suhu jenuh yang lebih tinggi diembunkan dan dikembalikan ke generator. Selanjutnya amonia dan sejumlah kecil uap air diteruskan ke analyzer, dimana uap air dan sebagian kecil amonia diembunkan dan dikembalikan ke generator melalui rectifier, sedangkan amonia diteruskan ke kondensor. Analyzer pada prinsipnya adalah suatu kolom distilasi, yang umumnya menggunakan air pendingin dari kondensor sebagai media pendingin.

Untuk dapat menghitung penampilan panas di dalam siklus pendinginan absorbsi maka diperlukan data entalpi tiap kombinasi refrigeran-zat penyerap yang digunakan. Diagram entalpi-konsentrasi sistem amonia-air (NH3-H2O) diberikan pada Lampiran. Perlu diperhatikan bahwa pada diagram tersebut konsentrasi yang ditunjukkan adalah konsentrasi NH3 di dalam larutan NH3-H2O, meskipun dalam hal ini amonia berfungsi sebagai refrigeran dan air sebagai zat penyerap.

B. Efek Termoelektrik

Jika arus dilewatkan melalui suatu termokopel maka akan terjadi 5 efek sebagai berikut:

Efek Seebeck; yaitu efek yang mendefinisikan mekanisme pengukuran suhu dengan termokopel (Gambar 6-8). Jika dua konduktor A dan B yang berbeda disambungkan dan kedua ujung sambungan tersebut diletakkan pada suhu yang berbeda, maka akan dihasilkan gaya gerak listrik (GGL). Sebaliknya, jika GGL tersebut disediakan, maka akan terjadi suhu berbeda pada kedua ujung tersebut. Hubungan antara beda suhu dengan GGL tersebut adalah:



Gambar 6-8. Efek Termoelektrik


Contoh video pendinginan dengan efek termoelektrik

............................................................

6-17

dimana a adalah daya termoelektrik atau koefieisen Seebeck (V/K)

Efek Joulean; yaitu efek pembentukan panas sebagai akibat dari arus yang mengalir karena terbentuknya GGL pada efek Seebeck di atas. Panas Joulean yang terbentuk adalah sebesar:

............................................................

6-18

dimana qj adalah panas joulean (W), I adalah arus (A) dan R adalah total tahanan pada rangkaian (ohm).

Efek Konduksi; yaitu jika salah satu ujung jembatan termokopel tersebut dipertahankan pada suhu yang lebih tinggi dari ujung lainnya, maka akan terjadi aliran panas dari ujung yang lebih panas ke ujung lebih dingin. Efek ini bersifat tak-mampu balik, dan besarnya adalah:

............................................................

6-19

dimana U adalah koefisien perpindahan panas keseluruhan.

Efek Peltier; jika arus dilewatkan melalui termokopel yang pada mulanya suhu kedua ujungnya adalah sama, maka sejumlah panas akan dilepas pada salah satu ujungnya dan sejumlah lain panas akan diserap pada ujung lainnya sehingga terjadi perbedaan suhu pada kedua ujung tersebut. Perpindahan panas tersebut dipengaruhi oleh arus yang mengalir, dengan hubungan seperti persamaan:

............................................................

6-20


dimana f adalah koefisien Peltier (volt). Efek Peltier ini menjadi dasar utama system pendinginan efek termoelektrik.

Efek Thomson; jika arus mengalir melalui konduktor termokopel yang pada mulanya bersuhu seragam, maka panas Joulean akan menyebabkan gradien suhu sepanjang termokopel tersebut, dengan hubungan:

............................................................

6-21


dimana t adalah koefisien Thomson (V/K) dan dT/dx adalah gradien suhu yang terjadi pada konduktor.

Secara termodinamik koefisien Seebeck (a), Peltier (f) dan Thomson (t) adalah saling berhubungan. Besaran a dan f sangat tergantung pada sifat kedua konduktor pada termokopel tersebut sehingga harus dinyatakan dalam nilai beda (a = aA - aB dan f = fA - fB). Dengan demikian, hubungan ketiga koefisien tersebut dapat dinyatakan dengan dua persamaan berikut:

............................................................

6-22

............................................................

6-23

Efek Peltier di atas dapat dimanfaatkan untuk tujuan pendinginan dengan memilih secara tepat dua konduktor berbeda yang akan digunakan. Gambar 2 menunjukkan contoh skematik system pendingin termoelektrik. Konduktor dipilih sedemikian hingga daya termoelektrik ap positip dan an negatip. Jembatan dingin direkatkan dengan lempeng metal atau jenis permukaan pindah panas lainnya, yang kemudian dipaparkan pada ruang atau benda yang akan didinginkan. Sedangkan jembatan panas direkatkan dengan permukaan pindah panas untuk dapat melepaskan panas ke atmosfir atau media lain.

Pada kondisi tunak (steady), penyerapan dan pelepasan panas dapat dianggap terjadi hanya pada jembatan tersebut, dan sifat lain bahan tetap. Dengan demikian, keseimbangan panas yang terjadi adalah:

............................................................

6-24

............................................................

6-25

Dari persamaan (6-25) diperoleh,

............................................................

6-26

yang menunjukkan bahwa beda suhu (T1 – T0) maksimum terjadi sat efek pendinginan q0 sama dengan nol. Tenaga batre (w) yang diperlukan sebagai kompensasi kehilangan daya karena efek Joulean dan counteract pembangkitan daya oleh efek Seebeck, adalah:

............................................................

6-27


Sehingga koefisien penampilan system pendingin tersebut menjadi:

............................................................

6-28

Untuk system termoelektrik yang mampu balik secara sempurna, tanpa efek Joulean dan konduksi, maka nilainya akan sama dengan COP siklus Carnot.

Nilai q0, (T1 – T0), dan COP dapat dimaksimalkan, dan nilainya diperoleh dengan menurunkan masing-masing persamaan yang berkaitan terhadap I dan menyamakan dengan nol, yaitu:

............................................................

6-29

............................................................

6-30

dimanadisebut sebagai figure of merit.

............................................................

6-31


Untuk COP maksimum, maka

............................................................

6-32


dan

............................................................

6-33

Bahan yang digunakan sebagai elemen kopel sitem pendingin termoelektrik adalah campuran bismuth, tellurium dan antimony sebagai elemen p, dan campuran bismuth, tellurium dan selenium sebagai elemen n. Nilai parameter elemen termoelektrik tipikal adalah sebagai berikut:

Daya termoelektrik a = 0.00021 volt/K
Konduktivitas termal k = 0.015 W/cm.K
Resistivitas listrik r = 0.001 ohm.cm
Contact resistance listrik r = 0.00001 ~ 0.0001 ohm.cm2

Latihan

1. Jelaskan beda penggunaan larutan LiBr-H2O terhadap larutan H2O-NH3 pada mesin pendingin absorbsi. Apakah penggunaan kedua larutan tersebut dapat saling dipertukarkan?

2. Apakah masing-masing efek berikut berpengaruh positip (meningkatkan kapasitas pendinginan) atau negatip (mengurangi kapasitas pendinginan) terhadap system pendinginan termoelektrik, berikan penjelasan singkat terhadap jawaban anda:

  • Efek Joulean
  • Efek Thomson
  • Efek Peltier
  • Efek Seebeck dan
  • Efek Konduksi

Test Formatip

1. Jelaskan sistem pendinginan termoelektrik dan menurut anda di bidang apa dapat diaplikasikan?

2. Jelaskan dengan ringkas perbedaan antara mesin pendingin jenis kompresi uap dengan mesin pendingin jenis absorbsi dari segi a) komponen-komponen utama dan fungsi dari masing-masing komponen tersebut, b) agen pendingin (refrigeran) yang digunakan.

3. Sebuah pendingin absorpsi yg menggunakan LiBr-H2O, dirancang sedemikian rupa sehingga panas yang diserap oleh evaporator (qe) = 138 kW pada suhu 5oC. Dengan suhu absorber 35oC, hitunglah:

  • Tentukan konsentrasi larutan yang melewati pompa menuju generator
  • Jika laju aliran yang melalui pompa 0.60 kg / detik, hitunglah konsentrasi keluar generator, apabila laju aliran dari generator ke absorber sebesar 0.54 kg/detik.
  • Tentukan suhu kondensor dan suhu generator yang diperlukan serta panas yang dibuang dari kondensor dan panas yang diserap di generator. (Petunjuk: hitung dahulu entalpi air keluar kondensor)
  • Tentukan COP sistem pendingin tersebut

4. Sistem pendingin absorbsi dengan pasangan refrigeran dan absorber adalah air dan larutan Li Br. Diagram sistem pendinginan adalah seperti gambar di bawah. Tentukan:

  • Diagram P-X-T (Tekanan, konsentrasi dan suhu)
  • Massa aliran tiap titik
  • Pindah panas tiap komponen sistem pendingin
  • COP sistem pendingin
  • Apa yang anda ketahui dengan sistem pendinginan absorbsi yang dilengkapi dengan Heat Exchanger?
  • Jelaskan terjadinya kristalisasi dalam sistem pendinginan absorbsi pasangan Air dan LiBr
BAB 5. REFRIGERAN

Tujuan Instruksional Khusus

Mahasiswa mampu menjelaskan jenis-jenis refrigerant dan mampu melakukan pemilihan refrigerant yang tepat. Cakupan dalam pokok bahasan ini meliputi refrigeran primer dan sekunder, sifat termofisik berbagai refrigeran, perbandingan atribut lingkungan dan atribut kinerja refigeran.

A. Pendahuluan

Refrigeran adalah fluida kerja yang bersirkulasi dalam siklus refrigerasi. Refrigeran merupakan komponen terpenting siklus refrigerasi karena refrigeran yang menimbulkan efek pendinginan dan pemanasan pada mesin refrigerasi. ASHRAE (2005) mendefinisikan refrigeran sebagai fluida kerja di dalam mesin refrigerasi, pengkondisian udara, dan sistem pompa kalor. Refrigeran menyerap panas dari satu lokasi dan membuangnya ke lokasi yang lain, biasanya melalui mekanisme evaporasi dan kondensasi.

Calm (2002) membagi perkembangan refrigeran dalam 3 periode: Periode pertama, 1830-an hingga 1930-an, dengan kriteria refrigeran "apa pun yang bekerja di dalam mesin refrigerasi". Refrigeran yang digunakan dalam periode ini adalah ether, CO2, NH3, SO2, hidrokarbon, H2O, CCl4, CHCs. Periode ke-dua, 1930-an hingga 1990-an menggunakan kriteria refrigeran: aman dan tahan lama (durable). Refrigeran pada periode ini adalah CFCs (Chloro Fluoro Carbons), HCFCs (Hydro Chloro Fluoro Carbons), HFCs (Hydro Fluoro Carbons), NH3, H2O. Periode ke-tiga, setelah 1990-an, dengan kriteria refrigeran "ramah lingkungan". Refrigeran pada periode ini adalah HCFCs, NH3, HFCs, H2O, CO2.


R-134 R-12

Gambar 5-1. Refrigeran

Perkembangan mutakhir di bidang refrigeran utamanya didorong oleh dua masalah lingkungan, yakni lubang ozon dan pemanasan global. Sifat merusak ozon yang dimiliki oleh refrigeran utama yang digunakan pada periode ke-dua, yakni CFCs, dikemukakan oleh Molina dan Rowland (1974) yang kemudian didukung oleh data pengukuran lapangan oleh Farman dkk. (1985).

Setelah keberadaan lubang ozon di lapisan atmosfer diverifikasi secara saintifik, perjanjian internasional untuk mengatur dan melarang penggunaan zat-zat perusak ozon disepakati pada 1987 yang terkenal dengan sebutan Protokol Montreal. CFCs dan HCFCs merupakan dua refrigeran utama yang dijadwalkan untuk dihapuskan masing-masing pada tahun 1996 dan 2030 untuk negara-negara maju (United Nation Environment Programme, 2000). Sedangkan untuk negara-negara berkembang, kedua refrigeran utama tersebut masing-masing dijadwalkan untuk dihapus (phased-out) pada tahun 2010 (CFCs) dan 2040 (HCFCs) (Powell, 2002). Pada tahun 1997, Protokol Kyoto mengatur pembatasan dan pengurangan gas-gas penyebab rumah kaca, termasuk HFCs (United Nation Framework Convention on Climate Change, 2005).

Powell (2002) menerangkan beberapa syarat yang harus dimiliki oleh refrigeran pengganti, yakni:

  1. Memiliki sifat-sifat termodinamika yang berdekatan dengan refrigeran yang hendak digantikannya, utamanya pada tekanan maksimum operasi refrigeran baru yang diharapkan tidak terlalu jauh berbeda dibandingkan dengan tekanan refrigeran lama yang ber-klorin.

  2. Tidak mudah terbakar.

  3. Tidak beracun.

  4. Bisa bercampur (miscible) dengan pelumas yang umum digunakan dalam mesin refrigerasi.

  5. Setiap refrigeran CFC hendaknya digantikan oleh satu jenis refrigeran ramah lingkungan.

Setelah periode CFCs, R22 (HCFC) merupakan refrigeran yang paling banyak digunakan di dalam mesin refrigerasi dan pengkondisian udara. Saat ini beberapa perusahaan pembuat mesin-mesin refrigerasi masih menggunakan refrigeran R22 dalam produk-produk mereka. Meski refrigeran ini, termasuk juga refrigeran jenis HCFCs lainnya, dijadwalkan untuk dihapuskan pada tahun 2030 (untuk negara maju), namun beberapa negara Eropa telah mencanangkan jadwal yang lebih progresif, misalnya Swedia telah melarang penggunaan R22 dan HCFCs lainnya pada mesin refrigerasi baru sejak tahun 1998, sedangkan Denmark dan Jerman mengijinkan penggunaan HCFCs pada mesin-mesin baru hanya hingga 31 Desember 1999 (Kruse, 2000).

Protokol Montreal memaksa para peneliti dan industri refrigerasi membuat refrigeran sintetis baru, HFCs (Hydro Fluoro Carbons) untuk menggantikan refrigeran lama yang ber-klorin yang dituduh menjadi penyebab rusaknya lapisan ozon. Weatherhead dan Andersen (2006) mengemukakan bahwa sejak 8 tahun terakhir, penipisan kolom lapisan ozon tidak terjadi lagi. Kedua peneliti ini meyakini akan terjadinya pemulihan lapisan ozon. Meski demikian, keduanya tidak secara jelas merujuk turunnya penggunaan zat perusak ozon sebagai penyebab pulihnya lapisan ozon. Powell (2002) menyebutkan bahwa adanya kerjasama yang sangat baik antara produser refrigeran dan perusahaan pengguna refrigeran telah memungkinkan terjadinya transisi mulus dari era penggunaan CFCs secara besar-besaran di 1986 hingga penghapusan dan penggantiannya dengan R134a di tahun 1996. Banyak kalangan menyebutkan bahwa Protokol Montreal adalah salah satu perjanjian internasional di bidang lingkungan yang paling berhasil diterapkan.


Saat ini, HCFCs (yang pada dasarnya merupakan pengganti transisional untuk CFCs) telah memiliki 2 kandidat pengganti, yakni R410A (campuran dengan sifat mendekati zeotrop) dan R407C (campuran azeotrop) (Kruse, 2000). Hidrokarbon Propana (R290) juga berpotensi menjadi pengganti R22 (Kruse, 2000). R407C merupakan campuran antara R32/125/132a dengan komposisi 23/25/52, sedangkan R410A adalah campuran R32/125 dengan komposisi 50/50 (ASHRAE, 2005). Saat ini, beberapa perusahaan terkemuka di bidang refrigerasi dan pengkonsian udara telah menggunakan R410A dalam produk mereka.

Gambar 5-2. Kulkas dengan refrigeran non CFC

Jika Protokol Montreal dan Kyoto dilaksanakan secara penuh dan konsisten, maka secara umum pada saat ini belum ada pilihan refrigeran komersial selain refrigeran alami. Meskipun perlu dicatat bahwa baru-baru ini terdapat produsen refrigeran yang mengklaim keberhasilannya membuat refrigeran yang tidak merusak ozon dan tidak menimbulkan pemanasan global (ASHRAE, 2006). Beberapa refrigeran alami yang sudah digunakan pada mesin refrigerasi adalah: amonia (NH3), hidrokarbon (HC), karbondioksida (CO2), air, dan udara (Riffat dkk., 1997). Kata "alami" menekankan keberadaan zat-zat tersebut yang berasal dari sumber biologis atapun geologis; meskipun saat ini beberapa produk refrigeran alami masih didapatkan dari sumber daya alam yang tidak terbarukan, misalnya hidrokarbon yang didapatkan dari oil-cracking, serta amonia dan CO2 yang didapatkan dari gas alam (Powell, 2002).

Penggunaan karbondioksida, air, dan udara pada refrigerator komersial masih memerlukan riset yang mendalam, sedangkan penggunaan amonia dan hidrokarbon, meskipun sudah cukup banyak dilakukan, masih memiliki peluang riset yang cukup banyak (Riffat dkk., 1997). Amonia bersifat racun (toxic) dan cukup mudah terbakar, sedangkan hidrokarbon termasuk dalam zat yang sangat mudah terbakar; oleh karena itu refrigeran tersebut secara umum sulit digunakan pada sistem ekspansi langsung. Sistem refrigerasi tak-langsung bisa digunakan untuk mengatasi kelemahan kedua refrigeran tersebut. Beberapa peneliti berusaha menekan tingkat keterbakaran refrigeran hidrokarbon dengan cara mencampurkannya bersama refrigeran lain yang tak mudah terbakar (Pasek dkk., 2006; Sekhar dkk., 2004; Dlugogorsky dkk., 2002). Granryd (2001) menekankan bahwa pada dasarnya sudah tersedia teknologi untuk meningkatkan keamanan pada sistem refrigerasi yang menggunakan refrigeran hidrokarbon, namun cara yang ekonomis untuk membuat sistem tersebut aman dan terbukti dapat digunakan dalam skala luas masih perlu dikembangkan lebih lanjut.

Refrigeran yang digunakan dalam sistem kompresi uap dikelompokkan menjadi refrigeran primer. Sedangkan jika fluida digunakan untuk memindahkan panas, maka fluida ini disebut sebagai refrigeran sekunder. Penggunaan refrigeran saat ini merupakan isu penting menyangkut pemanasan global. Pada bab ini, akan dijelaskan jenis refrigeran, sifat, dan penggunaannya saat ini.

B. Refrigeran Primer

Refrigeran primer adalah refrigeran yang digunakan pada sistem kompresi uap. Refrigeran yang digunakan pada sistem pendinginan kompresi uap harus mempunyai mempunyai sifat-sifat kimia, fisika, termodinamika tertentu yang sesuai dengan kondisi penggunaan

1. Jenis Refrigeran

a. Golongan Halokarbon

Refrigeran golongn halokarbon adalah jenis refrigeran yang umum digunakan. Refrigeran jenis ini meliputi refrigeran yang terdiri dari satu atau lebih dari tiga jenis ion golongan halogen (klorin, fluorin, dan bromin). Beberapa jenis refrigeran halokarbon yang umum digunakan disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Jenis refrigeran halokarbon


Nomor refrigeran

Nama kimia

Rumus kimia

11
12
13
22
40
113
115

Trikloromonofluorometan
Diklorodifluorometan
Monoklorotrifluorometan
Monoklorodifluorometan
Metil klorida
Triklorotrifluoroetan
Diklorotetrafluoroetan

CCl3F
CCl2F2
CClF3
CHClF2
CH3Cl
CCl2FCClF2
CClF2CClF2

Sistem penomoran golongan halokarbon adalah sebagai berikut: nomor pertama dari sebelah kanan menunjukkan jumlah atom florin pada senyawa, nomor kedua dari kanan menunjukkan satu nilai lebih banyak dari jumlah atau, hidogren pada senyawa dan tiga digit dari kanan menunjukkan satu nilai lebih sedikit dari jumlah atom karbon.

b. Senyawa Inorganik.

Awalnya, saat pendinginan hanya digunakan untuk tujuan khusus, hanya amoniak dan karbon dioksida yang dapat digunakan sebagai refrogeran. Saat pendinginan mulai dikenalkan pada masyarakat, sulfur dioksida, metil klorida dan metilen klorida digunkan karena sesuai dengan kompresor sentrifugal. Metilrn klorida dan karbon dioksida, karena faktor keamanannya digunakan untuk sistem pengkondisian udara (AC). Semua refrigeran ini, selain amonia, tidak digunakan lagi, kecuali pada sistem yang lama. Amonia mempunyai sifat termal yang baik, dan masih digunakan pada lapangan es skating.

c. Senyawa Hidrokarbon

Banyak senyawa hidrokarbon yang digunakan sebagai refrigeran, umumnya digunakan pada industri minyak bumi, seperti metana, etana, propana, etilen, dan isobutilen. Kesemuanya flammable dan eksplosif. Digolongkan sedikit beracun karena mengandung efek bius pada tingkat tertentu. Etana, metana, dan etilen digunakan pada pendinginan suhu ekstra rendah.

Hidrokarbon sebagai refrigerant dalam sistem refrigerasi telah dikenal sejak tahun 1920-an, sebelum refrigerant sintetik dikenal. Ilmuwan yang tercatat sebagai promotor hidrokarbon sebagai refrigerant antara lain Linde (1916) dan Ilmuwan Dunia Albert Einstein (1920). Hidrokarbon kembali diperhitungkan sebagai alternatif pengganti CFC, setelah aspek lingkungan mengemuka, dan timbulnya permasalahan dalam peralihan dari CFC ke HFC, dikarenakan perlu adanya penyesuaian perangkat keras, pelumas, serta perlakuan khusus dalam operasional penggunaan bahan HFC : R-134a ini.

Demikian sulitnya perlakuan R-134a sebagai pengganti R-12 serta masih memiliki dampak Global Warming Potential (GWP), bahkan Greenpeace suatu LSM di Jerman yang sebelumnya gencar mendorong peralihan R-12 ke R-134a, kemudian beralih memperomosikan penggunaan hidrokarbon sebagai refrigeran, seperti GTZ-Technology yang telah populer di daratan Eropa. Penggunaan refrigeran hidrokarbon terus meluas ke berbagai negara di kawasan Asia Pasific, dan. dewasa ini telah banyak dikenal berbagai merek refrigerant yang dihasilkan oleh berbagai negara, seperti yang berasal dari negara : Inggeris, Perancis, Jerman, Belanda, Kanada, Australia, Amerika, Korea, dan lain-lain, termasuk Indonesia.


Indonesia sebagai negara yang memiliki cadangan gas alam dan minyak bumi, disamping pemanfaatan sebagai bahan bakar, juga memiliki potensi sebagai negara yang dapat berkecimpung dalam hal refrigerant hidrokarbon maupun produk-produk ramah lingkungan berbasis hidrokarbon lainnya seperti : Aerosol propellant, foaming agent, solvent, dan lain-lain.
Produk refrigerant hidrokarbon MUSI COOL merupakan refrigerant hidrokarbon yang sudah diproduksi di dalam negeri dengan beberapa grade

  • MC-12 dan MC-134 sebagai pengganti refrigerant R-12 dan R-134a
    MC-12 dan MC-134 merupakan campuran propane dan i-butane dengan kandungan butane serendah mungkin agar tidak menggangu proses kondensasi pada sistem pendingin. Refrigerant ini digunakan pada kendaraan bermotor, kulkas dan dispenser

  • MC-22 sebagai pengganti refrigerant R-22 MC-22 digunakan untuk pendingin ruangan/AC jenis Split, window maupun central. Refrigerant ini memerlukan kandungan propane yang sangat tinggi yaitu 99,7 % wt dengan impuritis butane dan olefin yang serendah mungkin atau mendekati nol agar kinerja sistem pendingin berjalan optimal.

  • MC-600 sebagai refrigerant 600a MC-600 mempunyai kandungan i-butane yang sangat tinggi/dominan atau lebih besar dari 85 % wt dengan kandungan propane seminim mungkin. Refrigerant 600a saat ini digunakan sebagai media pendingin pada kulkas, yang beroperasi pada tekanan rendah. Ke depan prospek refrigerant ini sangat cerah karena kecenderungan penggunaannya tinggi.


Gambar 5-3. Refrigeran hydrocarbon (Musicool) buatan Pertamina

d. Azeotrop

Senyawa azeotrop adalah suatu campuran yang tak dapat dipisahkan menjadi senyawa penyusunnya dengan cara distilasi. Senyawa ini menguap dan mengembun sebagai satu zat, tidak seperti campuran lainnya. Azeotrop yang paling dikenal adalah R502 yang merupakan campuran 48.8% R22 dan 51.2% R115. Azeotrop lainnya adalah R-500, campuran dari 73.8% R-12 dan 26.2% R-152a.

2. Sifat Regfrigeran

Dalam pemilihan refrigeran, sifat refrigeran yang penting antara lain sifat termodinamika, kimia, dan fisik. Sifat termodinamika yang penting antara lain titik didih, tekanan penguapan dan pengembunan, tekanan dan suhu kritis, titik beku, volume uap, COP, tenaga per ton refrigerasi. Sifat kimia berhubungan dengan reaksi refrigeran terhadap keadaan sekitar, antara lain tidak mudah terbakar, tidak beracun, tidak bereaksi dengan air, minyak dan bahan konstruksi. Sedangkan sifat fisik refrigeran berhubungan dengan bahan itu sendiri,antara lain konduktivitas dan kekentalan.

Sifat Refrigeran

  • Tekanan penguapan harus cukup tinggi

  • Sebaiknya refrigeran memiliki suhu pada tekanan yang lebih tinggi, sehingga dapat dihindari kemungkinan terjadinya vakum pada evaporator dan turunnya efisiensi volumetrik karena naiknya perbandingan kompresi

  • Tekanan pengembunan yang tidak terlampau tinggi, apabila tekanan pengembunannya terlalu rendah, maka perbandingan kompresinya menjadi lebih rendah, sehingga penurunan prestasi kondensor dapat dihindarkan, selain itu dengan tekanan kerja yang lebih rendah, mesin dapat bekerja lebih aman karena kemungkinan terjadinya kebocoran, kerusakan, ledakan dan sebagainya menjadi lebih kecil.

  • Kalor laten penguapan harus tinggi, refrigeran yang mempunyai kalor laten penguapan yang tinggi lebih menguntungkan karena untuk kapasitas refrigerasi yang sama, jumlah refrigeran yang bersirkulasi menjadi lebih kecil

  • Volume spesifik ( terutama dalam fasa gas ) yang cukup kecil, Refrigeran dengan kalor laten penguapan yang besar dan volume spesifik gas yang kecil (berat jenis yang besar) akan memungkinkan penggunaan kompresor dengan volume langkah torak yang lebih kecil. Dengan demikian untuk kapasitas refrigerasi yang sama ukuran unit refrigerasi yang bersangkutan menjadi lebih kecil

  • Koefisien prestasi harus tinggi, dari segi karakteristik termodinamika dari refrigeran, koefisien prestasi merupakan parameter yang terpenting untuk menentukan biaya operasi

  • Konduktivitas termal yang tinggi, konduktivitas termal sangat penting untuk menentukan karakteristik perpindahan kalor

  • Viskositas yang rendah dalam fasa cair maupun fasa gas, dengan turunnya tahanan aliran refrigeran dalam pipa, kerugian tekanannya akan berkurang

  • Konstanta dielektrika dari refrigeran yang kecil, tahanan listrik yang besar, serta tidak menyebabkan korosi pada material isolator listrik

  • Refrigeran hendaknya stabil dan tidak bereaksi dengan material yang dipakai, jadi juga tidak menyebabkan korosi

  • Refrigeran tidak boleh beracun

  • Refrigeran tidak boleh mudah terbakar dan mudah meledak

  • Sebaiknya refrigeran menguap pada tekanan sedikit lebih tinggi dari pada tekanan atmosfir. Dengan demikian dapat dicegah terjadinya kebocoran udara luar masuk sistem refrigeran karena kemungkinan adanya vakum pada seksi masuk kompresor (pada tekanan rendah).

Titik didih refrigeran merupakan salah satu faktor yang sangat penting:

  • Refrigeran yang memiliki titik didih rendah biasanya dipakai untuk keperluan operasi pendinginan temperatur rendah (refrigerasi)

  • Refrigeran yang memiliki titik didih tinggi digunakan untuk keperluan pendinginan temperatur tinggi (pendinginan udara)

Titik didih refrigeran merupakan indikator yang menyatakan apakah refrigeran dapat menguap pada temperatur rendah yang diinginkan, tetapi pada tekanan yang tidak terlalu rendah. Dari segi termodinamika R12, R22, R500, R502, ammonia dapat dipakai untuk daerah suhu yang luas, dari keperluan pendinginan udara sampai ke refrigerasi. Sifat termofisik dari beberapa refrigeran disajikan pada tabel 5.1.

Tabel 5.1. Sifat termofisik beberapa refrigeran


Parameter

R-12

R-22

R-114

R-500

R-502

R-717

R-718

Simbol kimia

CCl2F2

CHClF2

CClF2

-

-

NH3

H20

Berat molekul

120.9

86.5

170.9

99.29

112

17

18

Titik didih (0C, 1 atm)

-29.8

-40.8

3.6

-33.3

-45.6

-33.3

100

Titik beku (0C, 1 atm)

-157.8

-160.0




-77.8


Cp/Cv (g)

1.13

1.18




1.31

1.40

Suhu kritik (0C)

112.2

96.1




132.8


Tekanan kritik (kPa)

4115.7

4936.1




1423.4


Panas laten penguapan (kJ/kg)

161.7

217.7




1314.2


3. Atribut Lingkungan dan Atribut Kerja

Pemilihan refrigeran lainnya dibuat berdasarkan atribut kerja dan lingkungan. Atribut kerja refrigeran adalah sifat yang berkaitan dengan penggunaan refrigeran. Sifat ini dibandingkan dengan beban kerja yang sama atau suhu evaporasi dan suhu kondensasi yang sama. Sifat yang dibandingkan antra lain COP, efek pendinginan, serta tekanan kondensasi dan evaporasi. Tabel 5.2 menampilkan atribut kerja bebrapa refrigeran dengan suhu kondensasi 300C dan suhu evaporasi -150C.

Tabel 5.2. Atribut kerja beberapa refrigeran


Refrigeran

Tekanan evaporasi (kPa)

Tekanan kondensasi (kPa)

Rasio tekanan

Efek refrigerasi (kJ/kg)

Laju aliran massa per kW refrigerasi (L/det)

COP

11
12
22
502
717

20.4
182.7
295.8
349.6
236.5

125.5
744.6
1192.1
1308.6
1166.6

6.15
4.08
4.03
3.74
4.93

155.4
116.3
162.8
106.2
1103.4

4.9
0.782
0.476
0.484
0.462

5.03
4.70
4.66
4.37
4.76

Atribut lingkungan suatu refrigeran duhubungkan dengan reaksi refrigeran saat terlepas di atmosfer. Pada refrigeran halokarbon, atom klorin pada refrigeran akan berikatan dengan ozon di atmosfer, sehingga menyebabkan terjadinya penipisan ozon yang menyebabkan pemanasan global. Terdapat tiga jenis atribut lingkungan yang umum dikenal, GWP, ODP, dan tahun atmosferik.

GWP (Global Warming Potential) adalah ukuran seberapa banyak jumlah gas rumah kaca yang diperkirakan akan mempengaruhi pemanasan global. GWP merupakan suatu ukuran relatif yang membandingkan gas yang ingin diketahui nilainya dengan gas CO2 dalam jumlah yang sama. GWP juga harus diukur dalam waktu yang sama, umumnya diukur dalam waktu 100 tahun. ODP (Ozone Depletion Pottential) merupakan parameter yang menyatakan kemampuan suatu refrigeran untuk berikatan dengan ozon di stratosfer. Umumnya, makin banyak ion klorin dalam suatu refrigeran maka makin tinggi ODPnya. Siklus hidup menentukan lamanya suatu gas terurai di atmosfer. Atribut lingkungan beberapa refrigeran ditunjukkan pada tabel 5.3.

Tabel 5.3. Atribut lingkungan refrigeran primer


Refrigeran

Tahun atmosferik

ODP

GWP

Karbon dioksida
Metana

50-200
12 + 3

0
0

1
21

R-11
R-12
R-22
R-502
R-717 (Amonia)

50 + 5
120
13.3
-
-

1.0
1.0
0.055
0.283
0

4000
8500
1700
5600
Tidak ada

C. Refrigeran sekunder

Seperti dijelaskan sebelumnya, refrigeran sekunder merupakan fluida yang membawa panas dari benda yang didinginkan ke evaporator suatu sistem pendinginan. Suhu refrigeran sekunder akan berubah saat refrigeran mengambil panas namun tidak berubah fasa. Air dapat digunakan sebagai refrigeran sekunder, namun hanya untuk kondisi operasi di atas titik beku air. Refrigeran yang umum digunakan adalah campuran garam dan air (brine) atau anti beku yang mempunyai titik beku di bawah 00C. Beberapa anti beku yang umum digunakan adalah campuran air dengan etilen glikol, propiln glikol atau kalsium klorida. Etilen glikol dapat digunakan dalam industri makanan karena tidak beracun.

Refrigeran Inorganik

Penggunaan

Amonia (NH3)

Untuk cold storage, pabrik es, pendinginan bahan pangan

Air (H2O)

Pendinginan tipe ejektor

CO2

Sebagai karbondioksida padat atau es kering dan hanya digunakan untuk refrigerasi angkutan

Refrigeran 11 (CCL3F)

Pendinginan dengan kompresor sentrifugal untuk sistem AC ber-kapasitas besar

Refrigeran 12 (CCL2F)

Pendinginan dengan kompresor piston untuk refrigerasi unit kecil terutama water cooler, kulkas

Refrigeran 22 (CHCLF2)

Pendinginan dengan kompresor tipe piston untuk unit refrigerasi kapasitas besar seperti pengemasan dan central AC

Refrigeran 502

Untuk bahan pangan beku dalam kabinet, terutama untuk pendinginan di pasar swalayan

Latihan

a. Berikan masing-masing satu contoh refrigeran dari jenis CFC dan HCFC.

b Jenis refrigeran mana yang lebih ramah terhadap lingkungan (gunakan tiga atribut lingkungan yang anda ketahui untuk menjelaskan pilihan anda tersebut).

Test Formatip

Jelaskan dengan singkat pendapat anda mengenai penggunaan hidrokarbon (HC) sebagai refrigeran untuk mesin pendingin/pembeku.

Daftar Pustaka

Musicool refrigerant. http://www.up-3.com/up3.php?page=viewproducts&id=8 diakses tanggal 6 Pebruari 2008